MATAHARI MASIH BERSINAR



Bojonegoro, 1993

Cahaya matahari mulai menembus celah-celah dedaunan pohon mahony yang ada disekitar rumah dinas mungilku. Awal sebuah hari yang akan kulalui demi sesuap nasi untuk keluarga kecilku. Istri tercintaku yang sedang mengandung anak pertamaku tersenyum manis dibalik kepul asap pagi itu menyiapkan sarapanku pagi ini.....aku tersadar begitu lama bagiku menunggu sebuah momongan setelah 3 tahun yang lalu kami menikah.
"mas, hari ini jenengan (kamu: jawa) pulang jam berapa?" tanya istriku dengan sopan.
dengan lemah lembut kuelus perut istriku sambil ku kecup kening istriku, dengan sambil berbisik
"Insyaallah aku akan pulang secepatnya untuk anak kita sayang.."
pagi ini memang terasa cukup berat bagiku untuk meninggalkan istriku yang sedang hamil tua sendirian di tengah hutan seperti saat ini, tapi aku tahu bahwa Tuhan tidaklah tidur dan Tuhan tidak akan keberatan dengan menjaga dua titipanku yakni anak dan istriku.
"kamu ga sarapan sayang?" tanyaku pada istriku.
"Mboten (tidak:jawa) mas, jengan duluan saja." jawab istriku lemah lembut.
seperti inilah kehidupanku sebagai seorang pegawai tidak tetap perusahaan kehutanan milik pemerintah, setiap pagi aku harus berangkat kerja meninggalkan istriku tercinta ditengah hutan diwilayah kerjaku dalam rumah kayu ukuran 2x6meter. Tapi aku tahu istriku bukanlah wanita yang manja yang tidak bisa menerima semua kondisiku, maka satu keyakinan itulah yang selalu membuatku semakin kuat untuk tetap berusaha.

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Grandica Musica Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger